Suguhan Lebaran; Pahami Dulu Sejarahnya, Baru Boleh Ketagihan!

Home  >>  Berita  >>  Suguhan Lebaran; Pahami Dulu Sejarahnya, Baru Boleh Ketagihan!

Suguhan Lebaran; Pahami Dulu Sejarahnya, Baru Boleh Ketagihan!

Apa definisi bahagia menurut Anda? Bahagia menurut kami adalah dapat berkumpul di hari lebaran bersama orang-orang tersayang. Eits, jangan baper dulu mendengar kata lebaran. Selain bermakna kemenangan, lebaran bisa berarti lebar-an atau bertambah melar akibat kalap melahap aneka suguhan. Nah, sebelum Anda ketagihan, simak yuk sejarahnya!

Nastar

Warung Apung Rahmawati Rumah Makan Enak - Pie Blueberry

Blueberry Pie ala Eropa yang menjadi cikal bakal Nastar via www.flickr.com

Kata nastar berasal dari bahasa Belanda ananas atau nanas dan taart atau tart yang berarti Tart Nanas—sebuah manifestasi kerinduan dan rasa ngidam orang-orang Belanda pada kue pie atau taart Eropa yang berisi selai blueberry dan apel.  Karena susah mendapatkan blueberry dan apel di Indonesia pada masa penjajahan, maka nanas dipilih sebagai buah pengganti. Bentuk nastar lebih kecil bila dibandingkan pie atau taart Eropa. Belum diketahui siapakah yang pertama kali mencetuskan resep pembuatan nastar.

Kastengel

Warung Apung Rahmawati Rumah Makan Enak - Kastengel Belanda

Panjang dan gurih, Kastengel asli Belanda via www.flickr.com

Adonan kastengel mirip dengan adonan nastar, bedanya kastengel berisi keju melimpah yang konon lebih enak bila menggunakan keju tua atau keju ayam asli Belanda. Karena sangat identik dengan taburan keju, maka ditemukan kata kaas dan stengels yang berasal dari bahasa Belanda. Kaas artinya keju dan stengels artinya batangan—maka jadilah kastengel yang berarti keju batangan. Di Belanda, kastengel tidak sependek di Indonesia. Panjangnya bisa mencapai 30 centimeter. Resep kastengel pertama kali dikenalkan oleh nyonya-nyonya Belanda di masa kolonial.

 

 

Lidah Kucing

Warung Apung Rahmawati Rumah Makan Enak - Lidah Kucing

Katte Tong via www.flickr.com

Senada dengan nastar dan kastengel, lidah kucing ternyata juga berasal dari Belanda. Resepnya dibawa masuk ke Indonesia pada masa kolonial dan dinamakan “Katte Tong” atau “Cat Tongue” yang artinya Lidah Kucing. Di Filipina, kue ini dikenal dengan nama Lengua de Gato.

 

Madu Mongso

Warung Apung Rahmawati Rumah Makan Enak - Madu Mongso

Melekatkan silaturahmi via www.wikipedia.com

Menurut salah satu sumber, suguhan ini sudah ada sejak zaman kerajaan di daerah Solo dan sekitarnya. Karena dibuat secara khusus saat lebaran, maka dinamakan “Madu Mongso” yang berarti manis bagaikan madu dan dibuat pada mongso (waktu) lebaran. Dahulu, hampir setiap rumah menyuguhkan madu mongso kala lebaran. Rasanya yang manis dan lengket identik dengan suasana ramadan yang dianjurkan mengkonsumsi makanan manis dan menjadi simbol melekatkan silaturahmi di hari nan fitri.

 

 

Tape Ketan

Warung Apung Rahmawati Rumah Makan Enak - Tape Ketan (1)

Manisnya saling memaafkan via www.flickr.com

Belum ada bukti literatur menjelaskan asal mula kudapan tape ketan, namun menurut para leluhur tape ketan juga simbol dari manisnya saling memaafkan dan berkumpul di hari kemenangan.

 

Kembang Goyang

Warung Apung Rahmawati Rumah Makan Enak - Kembang Goyang

Cantik nan gurih via www.flickr.com

Rasanya gurih dan renyah, cocok disuguhkan untuk tamu pada saat lebaran atau acara hajatan. Di Sumatera dikenal dengan nama kue kembang loyang atau kue loyang, sementara di Bali biasa digunakan sebagai salah satu isi sesaji dalam ritual dan hari raya agama Hindu. Disebut kembang goyang karena bentuknya menyerupai kelopak bunga atau kembang, dan proses membuatnya digoyang-goyang hingga adonan terlepas dari cetakan. Kue kembang goyang sangat cantik jika disuguhkan dalam toples bening layaknya kembang yang sedang mekar. Selain itu, kembang goyang juga merupakan sejenis perhiasan di rambut atau sanggul pengantin wanita Jawa yang dapat bergoyang-goyang.

Warung Apung Rahmawati Rumah Makan Enak - Hiasan Kembang Goyang

Hiasan kembang goyang untuk pengantin Jawa via www.flickr.com

 

Rengginang

SONY DSC

Cinta tak segaring Rengginang via www.flickr.com

Rengginang mulanya berasal dari nasi sisa yang tidak dimakan, dijemur, lalu digoreng menjadi cemilan atau teman bercengkrama. Kini rengginang sudah banyak dimodifikasi dengan menggunakan bahan yang lebih berkualitas dan diberi bumbu aneka rasa. Untuk melengkapi keceriaan lebaran, rengginang cocok disuguhkan.

 

***

 

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *