Call Us : 0822-4000-0020

Menelusuri Jejak Cinta Abadi Hayati kepada Zainuddin di Pelabuhan Brondong Lamongan

Home  >>  Berita  >>  Menelusuri Jejak Cinta Abadi Hayati kepada Zainuddin di Pelabuhan Brondong Lamongan

Menelusuri Jejak Cinta Abadi Hayati kepada Zainuddin di Pelabuhan Brondong Lamongan

   Berita   Agustus 6, 2016  No Comments

Warung Apung Rahmawati Rumah Makan Enak - Film Tenggelamnya Kapal Van Der WijckFilm Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck via www.flickr.com

“Tidak! Pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda makan sisa!” Zainuddin berapi-api menghardik kekasihnya Hayati. Salah satu adegan dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka yang selalu saya ingat dan kini telah sukses difilmkan. Herjunot Ali dan Pevita Pearce didapuk sebagai bintang utama yang dihujani banyak pujian. Dalam kisah tersebut, Hayati yang berurai air mata karena ditolak kekasihnya akhirnya memutuskan kembali pulang ke Tanah Minang. Menumpang sebuah kapal megah dan cukup canggih di zamannya, Kapal Van Der Wijck sangat mustahil bisa karam. Namun Tuhan adalah pemilik takdir kehidupan, saat bertolak dari Surabaya, tepatnya di pesisir Lamongan, kapal itupun karam.
Memang kisah cinta Hayati dan Zainuddin hanyalah fiksi. Yang tak banyak diketahui, tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memang benar-benar terjadi. Di pesisir Lamongan, tepatnya Desa Brondong , berdiri sebuah monumen bersejarah bernama Monumen Van Der Wijck yang dibangun tahun 1936 sebagai tanda terima kasih Negara Belanda kepada para nelayan yang telah menolong evakuasi saat kapal tenggelam.
Kapal Van Der Wijck adalah kapal uap milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) yang menjadi cikal bakal Pelayaran Nasional Indonesia atau PELNI. Namanya diambil dari nama Gubernur Jenderal Hindia – Belanda; Carel Herman Aart van der Wijck. Berjuluk De Meeuw atau The Seagull yang berarti “Burung Camar”—menggambarkan keanggunan kapal yang tenggelam karena kelebihan muatan pada 20 Oktober 1936 saat perjalanan dari Bali menuju Semarang dan singgah di Surabaya. Jumlah korban tidak diketahui pasti karena selain warga Eropa, banyak warga pribumi yang hilang dan tak tercatat sebagai penumpang resmi.
Sementara itu, Monumen Van Der Wijck awalnya tak menjadi sorotan. Bahkan warga Lamongan banyak yang belum mengetahui keberadaannya. Seiring dengan kepopuleran film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, keberadaan monumen ini mulai tertangkap ‘radar’ para pejalan. Bagi Anda yang ingin menelusuri jejak Kapal Van Der Wijck sambil membayangkan kisah Hayati dan Zainuddin, lokasinya berada di halaman Perum Prasarana Perikanan Samudra Cabang Brondong—tepat di belakang gapura menuju Pelabuhan dan Tempat Pelelangan Ikan. Namun karena bentuknya yang kurang menonjol, banyak orang mengira jika monumen ini adalah bagian dari kantor.

 

Puas menelusuri jejak-jejak cinta Hayati dan Zainuddin, Anda bisa mengisi perut di Warung Apung Rahmawati. Jika tenaga dan semangat kembali pulih, rute selanjutnya sudah siap dijelajahi. (Put)

Warung Apung Rahmawati Rumah Makan Enak - Monumen Van Der Wijck

Monumen Van Der Wijck via www.blogspot.com

Warung Apung Rahmawati Rumah Makan Enak - Monumen Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Prasasti Van Der Wijck via www.i1os.com

Temui Kami :
Warung Apung Rahmawati Lamongan
Jalan Simpang Kusuma Bangsa No. 6 Lamongan
Telp. (0322) 317770

 

 

 

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *