Jangan Ngaku Arek Gresik Kalau Belum Kenal 5 Kuliner Ini

Home  >>  Berita  >>  Jangan Ngaku Arek Gresik Kalau Belum Kenal 5 Kuliner Ini

Jangan Ngaku Arek Gresik Kalau Belum Kenal 5 Kuliner Ini

Hidup di kota pesisir memang harus kuat menahan suhu udara yang menyengat dan godaan kuliner lezat. Pesisir yang menjadi mula sebuah peradaban kerap menjadi magnet para perantau mencari penghidupan. Dari sanalah terjadi akulturasi antara warga lokal dan pendatang. Resep-resep nenek moyang berpadu menciptakan cita rasa yang kaya, menjadi aset berharga karena tak hanya bernilai sejarah namun juga mencerminkan karakter masyarakat setempat.

Gresik terletak di pesisir utara Pulau Jawa, tempat pertemuan berbagai macam kebudayaan dan tentu menyimpan beragam kuliner pilihan. Menikmati kuliner Gresik seperti membawa kita kembali ke masa lalu dengan menggunakan mesin waktu untuk menyelami nilai-nilai kehidupan yang hingga kini masih terus dilestarikan.

 

Kolak Ayam

Dahulu kala, Sunan Dalem yang merupakan putra pertama Sunan Giri sedang jatuh sakit. Sudah mencari obat kemanapun tapi belum juga sembuh hingga Sunan Giri mendapat petunjuk membuat Kolak Ayam yang harus dimasak oleh para lelaki. Kolak Ayam tersebut akhirnya menjadi obat bagi Sunan Dalem hingga kondisinya berangsur sembuh.

 

Proses pembuatan Kolak Ayam melibatkan ratusan laki-laki desa dengan pembagian tugas masing-masing. Mulai dari menyiapkan ratusan ekor ayam, mengolah dagingnya di atas tungku dengan bahan bakar kayu. Dibutuhkan banyak tungku dengan wajan-wajan berukuran besar untuk memasak Kolak Ayam yang harus diaduk terus menerus hingga matang.
Seporsi Kolak Ayam dihidangkan bersama nasi ketan. Berisi suwiran ayam dan daun bawang yang sengaja tak dipotong. Aroma gula merah dan jinten menguar sangat kuat yang konon mampu menyembuhkan Sunan Dalem tepat pada malam 23 Ramadan. Dari sinilah muncul keyakinan bahwa Kolak Ayam mampu menyembuhkan beragam penyakit ringan maupun tahunan. Setiap malam 23 Ramadan, tradisi ini dihadiri banyak tamu dari luar kota yang ingin merasakan khasiat Kolak Ayam Desa Gumeno.

Rumah Makan Warung Apung Rahmawati - Kolak Ayam

www.gresikku.com

Lomboksia

 

Untuk bekal selama melaut yang dimasak di atas perahu, para lelaki pesisir tidak pernah merepotkan sang istri. Mereka berusaha mandiri menyiapkan bekalnya sendiri, tentunya bekal yang enak dan mudah dimasak. Adalah Lomboksia—akronim dari lombok, terasi, uyah, yang digunakan sebagai bumbu dasar mengolah hasil laut tangkapan mereka. Bisa ikan sumbal, ikan lajang, ikan gigi tiga, ikan barakuda, bahkan ikan sembilang yang terkenal mahal. Kuah Lomboksia yang gurih dan pedas membuat penggemarnya semakin bertambah—tidak hanya menjadi ‘menu wajib’ para nelayan, tapi juga disuguhkan di berbagai hajatan seperti manakib dan tahlil. Bahkan, kini sudah banyak penjual makanan di Desa Lumpur yang menyediakan menu Lomboksia di kedai mereka.

Rumah Makan Warung Apung Rahmawati - Lomboksia
www.facebook.com

 

Kupat Kethek

 

Tak banyak generasi muda yang tahu kudapan satu ini. Pun bila disodori, barangkali mereka hanya menyangka sejenis ketupat yang biasa dimakan bersama opor untuk pengganti nasi atau lontong. Padahal, Kupat Kethek sangat berbeda. Ia hanya bisa ditemukan di Desa Giri, diolah menggunakan air dari sumur ketek Desa Sekarkurung, Kecamatan Kebomas. Air sumur ketek mengandung minyak bumi mentah yang acap disebut lantung atau letheg oleh warga setempat.
Butuh waktu sekitar 4 jam untuk mengukus Kupat Kethek agar matang sempurna. Bila diolah tidak dengan air sumur ketek, maka rasanya tidak enak. Pembungkus yang digunakan juga bukan anyaman janur kelapa, tetapi daun gebang—sejenis pohon palma yang banyak tumbuh di daerah Mojokerto. Kupat Kethek nikmat dihidangkan bersama parutan kelapa dan ditaburi gula pasir. Manis, gurih, unik, siapapun tentu ketagihan mencoba kuliner kebanggaan warga Giri.

Rumah Makan Warung Apung Rahmawati - Kupat Kethek
www.gresikku.com

 

Masin

Wujudnya hampir mirip Bubur Manado tapi jelas beda rasanya. Dominasi gurihnya udang, asam belimbing wuluh, serta wangi aroma kemangi membuat kuliner satu ini laris manis diburu terutama pada bulan Ramadan. Bahannya berasal dari jagung ditumbuk kasar lalu dijadikan bubur yang dimasak bersama udang dan bumbu sederhana—bawang merah, bawang putih, laos, merica, kunyit, serta cabai merah. Ditambah irisan belimbing wuluh dan daun kemangi yang memperkaya cita rasa. Masin sangat cocok dinikmati bersama kerupuk udang dengan cara dicocol.
Rumah Makan Warung Apung Rahmawati - Bubur Masin
www.dapur-yummi.blogspot.com

 

Koncok-Koncok

Siapa bilang Gresik tak punya Pempek? Siapa bilang Gresik tak punya Cireng? Baiklah, Gresik memang tidak punya Pempek ataupun Cireng, tapi Gresik justru punya keduanya. Koncok-Koncok, namanya. Hidangan ini bertekstur seperti Cireng namun sangat kuat rasa ikannya seperti Pempek Palembang. Hasil laut yang melimpah dari Bawean menuntut masyarakat lebih kreatif dalam mengolah hasil tangkapan. Akhirnya tercetuslah ide mengolah ikan menjadi Koncok-Koncok. Bahannya terbuat dari tepung kanji yang dicampur sedikit air, telur, penyedap rasa, tumbukan bawang putih, kemudian ditambahkan ikan yang sudah dihaluskan dengan membuang tulangnya terlebih dahulu. Semakin banyak ikan yang digunakan, semakin gurih rasanya. Setelah semua bahan tercampur, adonan diuleni menggunakan tangan. Koncok-Koncok yang sudah digoreng sangat nikmat dicocol bumbu kuah dan dijadikan teman berkumpul bersama keluarga. Kuliner ini selalu dijadikan oleh-oleh bagi siapapun yang pernah bertandang menyaksikan keindahan Pulau Bawean.
Rumah Makan Warung Apung Rahmawati - Koncok Koncok
www.makjoel.wordpress.com

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan, sekaligus menghargai kebudayaan leluhur. Dengan melestarikan warisan nenek moyang, kita turut andil menjaga nilai-nilai kehidupan, salah satunya yang tertuang dalam ragam kuliner lokal.

 

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *